Wawasan Persaudaraan Islam

Tumbuh suburnya berbagai macam kelompok, partai atau aliran keagamaan di negeri ini dipandang sebagai berkah bagi keragaman bangsa Indonesia. Fenomena yang mutakhir adalah munculnya banyak partai dengan berbagai macam tujuan perjuangannya. Tentu hal ini patut diapresiasi dengan baik, karena kebebasan dan hak berpendapat masyarakat sangat dihargai. Namun, yang seringkali terjadi adalah kita terlanjur terjebak pada perspektif hak, dan kemudian mengabaikan perspektif tanggungjawab, hingga yang terjadi adalah benturan-benturan hak yang pada gilirannya menimbulkan konflik yang akut, bahkan dapat mengancam persatuan negeri ini sebagai bangsa yang besar.


Meskipun Indonesia tidak menegaskan dirinya sebagai negara teokrasi, namun bangsanya dikenal sebagai bangsa yang religius. Bahkan, aspek religius mendapat tempat yang sangat penting dalam menemani perjalanan bangsa ini guna membangun peradabannya. Ada sekitar lima agama yang dianut masyarakat Indonesia, dan belum terhitung berbagai macam aliran kepercayaan yang banyak tumbuh di masyarakat. Islam adalah agama yang banyak dianut masyarakat Indonesia, hingga disebut sebagai masyarakat Islam terbesar di dunia.
Kenyataan bahwa mayoritas orang Indonesia memeluk agama Islam sebagai keyakinannya, ini tidak sebanding lurus dengan keseragaman tingkat pemahaman tentang Islam itu sendiri. Artinya, ada berbagai macam perbedaan dalam memahami Islam. Jadi, antara Islam dengan umatnya sangat berbeda. Namun, ajaran agama Islam tidak akan menjadi fungsional jika tidak ada umat yang memahami ajaran Islam tersebut. Sehingga ketika kita berbicara tentang Islam, maka sesungguhnya kita sedang membicarakan tentang pemahaman Islam oleh umat, kemudian disebut sebagai umat Islam.

Keragaman Umat Islam dan Kebangsaan
Umat Islam ini juga sesungguhnya tidaklah tunggal, masing-masing mempunyai pemahamannya sendiri tentang Islam. Belum lagi jika berbicara tentang kepentingan politiknya. Realitas yang menarik, tidak semua umat Islam Indonesia berafiliasi dalam wadah partai yang berhaluan Islam. Ini setidaknya ditunjukkan dengan lemahnya perolehan suara partai-partai Islam dibandingkan dengan partai-partai nasionalis atau yang berasaskan Pancasila selalu lebih unggul. Inilah yang kemudian memunculkan kesimpulan bahwa umat Islam Indonesia tidaklah satu, tetapi beragam. Kesimpulan ini kemudian memicu pertanyaan, apakah yang dapat menyatukan keberagaman umat Islam Indonesia itu?
Jawaban yang muncul dari pertanyaan ini adalah bisanya bahwa karena umat Islam disatukan oleh agama mereka, maka mereka dapat tetap bersatu dalam agama Islam, atau yang disebut dengan ukhuwah Islamiyah, yakni persaudaraan sesama Islam. Namun sesungguhnya jawaban itu tidak cukup tepat, meskipun dalam tingkat tertentu dapat diterima.
Menurut saya, umat Islam yang beragama disatukan bukan pertama-pertama karena kesamaan agama Islam yang mereka peluk, tetapi kesadaran mereka akan kesamaan kebangsaan yang hidup bersama dalam sebuah negara-bangsa Indonesia. Maka, ungkapan yang muncul adalah “kami adalah orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang hidup di negara Indonesia.”


Mengapa mereka disatukan oleh rasa kebangsaan yang sama dan bukan agama Islam yang menyatukan mereka? Tentu jawaban untuk pertanyaan ini perlu sebuah kajian dan penelitian yang lebih dalam. Namun yang bisa saya katakan di sini adalah bahwa kenyataan pemahaman umat Islam akan ajaran agama Islam yang berbeda-beda sudah menunjukkan keberbedaan mereka dalam memahami Islam, dan inilah yang membuat mereka sangat beragam. Namun, keberbedaan dan keberagaman ini tetap membuat mereka mampu untuk hidup bersama sebagai bangsa yang satu, yakni bangsa Indonesia.
Dalam konteks berbangsa Indonesia ini, hemat penulis perlu untuk memahami kembali makna ukhuwah Islamiyah. Hal ini penting untuk kemudian melihat bagaimana umat Islam Indonesia yang berbeda-beda ini harus tetap bersatu dalam konteks negara-bangsa Indonesia.


Memahami Kembali Ukhuwah Islamiyah
Istilah ukhuwah Islamiyah terkadang diartikan berbeda-beda, antara lain: pertama, persaudaraan sesama Muslim; kedua, persaudaraan bersifat Islam; ketiga, persaudaraan secara Islam. Ada juga yang mengartikannya persaudaraan sesama iman. Terlepas dari pengertian-pengertian tersebut, sebetulnya ukhuwah Islamiyah adalah satu bentuk ajaran pokok Islam yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis lebih mengartikan ukhuwah Islamiyah dengan arti yang kedua atau ketiga dibanding arti yang pertama. Mengapa? Karena kedua arti tersebut lebih sesuai secara bahasa. Maka secara bahasa seharusnya arti ukhuwah Islamiyah adalah persaudaraan yang didasarkan ajaran Islam. Artinya, Islam telah mengajarkan bagaimana menjaga persaudaraan: dalam konteks sesama pemeluk agama Islam (ukhuwah al-Muslimin); persaudaraan sesama manusia (ukhuwah fi al-insaniyah); persaudaraan sesama makhluk ciptaan Tuhan (ukhuwah fi al-‘ubudiyah); dan persaudaraan dalam hal kebangsaan (ukhuwah fi al-wathaniyah wasy-sya`b).

Selanjutnya, yang harus dipahami juga adalah kata ukhuwah itu sendiri. Kata ini sebetulnya pada awalnya berarti “perhatian” (Azra, 2005: 74). Dengan adanya perhatian dari masing-masing pihak yang bersaudara ini, maka akan berkembang menjadi pandangan tentang kesamaan dan keserasian dalam beberapa hal dari pihak yang bersaudara tersebut. Jadi secara substantif, kata ukhuwah berarti perhatian, persamaan, dan keserasian. Semuanya mengandung makna memperkokoh tali persaudaraan.

Secara normatif, Allah tidak menciptakan makhluk-Nya dalam satu persamaan. Manusia berbeda satu sama lain sebagai takdir Allah. Dalam al-Qur’an dinyatakan, “Dan jika seandainya Tuhanmu menghendaki, maka pastilah Dia jadikan manusia umat yang tunggal. Namun, mereka tetap berselisih, kecuali Tuhanmu merahmatinya…” (Q.s. Hud: 118-119).


Persamaan dan perbedaan antara umat manusia merupakan fitrah yang tidak bisa dibantah dan diubah. Baik persamaan maupun perbedaan sesama manusia yang diterima secara tidak bulat akan menimbulkan perselisihan serta mengakibatkan permusuhan dan peperangan, sehingga pada akhirnya menimbulkan kesengsaraan. Namun, bila keduanya diterima dengan suara bulat, maka perbedaan ini akan menjadi rahmat Allah yang mampu mengantarkan ke dunia yang damai dan berbahagia. Keterbukaan dan kesediaan menerima tidak hanya persamaan, tetapi juga perbedaan dengan rahmat Allah itu merupakan pangkal terwujudnya persaudaraan.

Islam sangat menganjurkan menjaga tali persaudaraan dengan orang atau kelompok lain yang tidak saja sama, tetapi juga yang berbeda. Dalam menganjurkan menjaga tali persaudaraan itu, Islam telah menunjukkan caranya selalu memberikan perhatian atau menunjukkan perasaan empati, bersikap toleran, terbuka, dan bersikap lemah lembut. Inilah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw ketika beliau membangun negara Madinah dengan kondisi yang sangat plural, sebagaimana terekam dalam surat Ali Imran: 159, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”
Dalam ayat tersebut, kita mendapatkan prinsip-prinsip yang perlu kita lakukan untuk menerima persaudaraan dan perbedaan, antara lain adalah: prinsip lemah lembut, tidak kasar dan keras hati, memaafkan, memohon ampunan, musyawarah, dan konsisten. Prinsip-prinsip inilah yang kemudian disebut dengan ukhuwah Islamiyah, karena prinsip-prinsip itulah yang diajajarkan oleh Islam dalam menjaga tali persaudaraan.


Penutup

Sebagaimana diketahui, Indonesia adalah negeri yang multikultur, berbagai suku bangsa, bahasa, dan agama terdapat di negeri ini. Sebagaimana diketahui pula, bahwa Islam juga mengakui akan adanya fitrah perbedaan tersebut. Dan Islam juga telah memberikan contoh bagaimana menghadapi perbedaan-perbedaan yang muncul.

Menjaga persatuan bangsa adalah upaya menciptakan kedamaian. Menjaga kedamaian adalah bagian dari pesan Islam (secara bahasa Islam: kedamaian). Jadi persatuan bangsa perlu dilakukan untuk menciptakan kedamaian. Inilah makna ukhuwah Islamiyah dalam konteks persatuan bangsa. Sehingga bisa dikatakan bahwa menjaga persatuan bangsa adalah bagian dari makna ukhuwah Islamiyah, karena menjaga persatuan bangsa berarti juga menegakan prinsip-prinsip Islam yang membawa kedamaian.
Dalam konteks itu pula, menjaga persatuan bangsa adalah bagian dari kewajiban amar ma’ruf bagi umat Islam di Indonesia. Sementara kita tinggalkan terlebih dahulu perspektif hak, mulai kita berbicara tentang tanggungjawab kita sebagai Muslim untuk menjaga persatuan bangsa, apa pun kelompok agama atau partai dan kepentingan kita. Wallahua’lam bi al-shawwab..

0 komentar: